Posted by: albatrosh | July 8, 2008

The Dancing Stocks

THE DANCING STOCKS

Mengamati pergerakan saham maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Pasar Modal (Equity Market) merupakan hal yang menarik, menegangkan, dan mungkin aneh. Dalam selang beberapa detik, harga-harga saham dapat berubah dan nilai transaksinya pun mencapai puluhan milyar rupiah. Selain itu, di Pasar Modal, dalam periode-periode tertentu, ada pihak yang gembira karena meraih untung atas perubahan yang terjadi, dan ada pula pihak yang kecewa atau sedih karena ekspektasi yang dilakukan meleset sehingga menderita kerugian atau harga sahamnya menurun.

Hal tersebut di atas adalah sedikit gambaran atas apa yang terjadi di Pasar Modal/Pasar Saham (Stocks Exchange Market) di mana pasar modal ini merupakan sarana bagi perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan cara menjual saham atau mengeluarkan obligasi (Bonds). Secara umum, terdapat dua system transaksi di Pasar Saham. Pertama, Order Driven Market System, yakni system di mana pembeli dan penjual sekuritas yang ingin bertransaksi harus melalui Broker, sehingga investor tidak dapat langsung bertransaksi di lantai bursa.

Dan kedua, Continous Auction System. System yang kedua ini menerapkan system lelang kontinyu di mana harga transaksi ditentukan oleh penawaran (Supply) dan permintaan (Demand) dari investor. Sebagaimana lazimnya lelang, harga transaksi tersebut ditentukan antara harga penawaran penjualan terendah (Ask Price) dengan harga penawaran pembelian tertinggi (Bid Price).

Dengan adanya mekanisme Ask dan Bid Price di atas, investor senantiasa dituntut untuk segera membuat keputusan apakah saham tertentu layak dibeli atau tidak, sudah murah atau masih terlalu mahal, prospektif atau tidak, dan apakah investor akan memiliki potensial Capital Gain atau tidak atas transaksi yang dilakukan, di mana Capital Gain ini terjadi akibat adanya keuntungan atas selisih antara harga jual dengan harga belinya, atau selisih untung dari harga investasi sekarang dengan harga periode yang lalu.

Berangkat dari perburuan Capital Gain di atas, bagi seorang investor akan cenderung lebih menarik untuk menghadapi atau membuat pasar berfluktuasi sehingga dengan adanya kecenderungan tersebut, harga saham akan kian agresif bergerak, ada kalanya naik, mengambang, turun, meluncur, jatuh, mendaki, atau terus menerus melambung.

Dimotori oleh fenomena-fenomena pergerakan saham di atas, penyusun memberi judul kumpulan kliping ini dengan sebuah idiom “The Dancing Stocks”, dan memang seperti itu keadaannya, saham-saham perusahaan yang listing di Bursa Efek pun kian menarik untuk disaksikan bagaimana mereka bergerak. Oleh karena itu, untuk selanjutnya, dengan diawali oleh pertunjukan saham yang bergerak menanjak, dan diakhiri dengan implikasi fluktuasi pergerakan saham terhadap mata uang Rupiah, kumpulan kliping ini akan mengarahkan pembaca kepada ha-hal yang terkait dengan pergerakan saham, Capital Gain, dan factor-faktor yang menyebabkan fluktuasi beberapa saham perusahaan di Pasar Saham.

DAFTAR ARTIKEL

O

TITLE

REFFRENCES

1.

Stocks Climbs; Astra, Aneka Lead Gains

The Jakarta Post, Thursday, February 08, 2007

2.

Stocks Rise to Record Once More as Telkom Gains

The Jakarta Post, Tuesday,

April 12, 2007

3.

Stocks Rise to Second Straight Record; Inco Leads Gainers

The Jakarta Post, Tuesday,

April 24, 2007

4.

Stocks Fall After Big Gains on Three Consecutive Days

The Jakarta Post, Wednesday, April 25, 2007

5.

Stocks Climbs; Astra Agro Gains

The Jakarta Post, Thursday,

April 26, 2007

6.

Stocks Index Finally Breaks 2000 Mark

The Jakarta Post, Friday,

April 27, 2007

7.

Stocks Come to Light After Three Days in the Dark

The Jakarta Post, Saturday, September 1, 2007

8.

Most Asian Market Down, Tokyo Stocks Lose 2 Percent

The Jakarta Post, Wednesday, September 19, 2007

9.

Asian Stocks Rally After U.S Rate Cut

The Jakarta Post, Thursday, September 20, 2007

10.

Rupiah Rises to Highest in Six Weeks as Stocks Gain

The Jakarta Post, Thursday, September 20, 2007

Uraian Artikel

1. Stocks Climbs; Astra, Aneka Lead Gains

Artikel ini menyoroti tentang dampak banjir yang terjadi di Jakarta terhadap berbagai saham. Walaupun secara garis besar saham-saham mengalami kenaikan, terdapat juga saham-saham yang turun. Di antara saham yang naik adalah saham PT Astra International dan PT Aneka Tambang. Banjir di Ibukota Negara itu tidak terlalu membawa dampak pada PT Astra. Sebab, prusahaan tidak menyimpan sebagian besar persediaannya di area yang terkena banjir dan sebagian besar dari persediaan yang ada telah diasuransikan. Lain halnya dengan saham-saham perbankan, kecuali saham PT Bank Central Asia (BCA), beberapa saham perbankan seperti PT Bank Mandiri, PT Bank Niaga, dan BII mengalami penurunan harga saham. Penurunan tersebut disebabkan banyak peminjam (Debitur) tidak dapat melunasi kewajibannya sehingga Non Performing Ratio (NPL) perbankan naik.

  1. Stocks Rise to Record Once More as Telkom Gains

Setelah beberapa waktu berselang yang diwarnai dengan saham-saham yang bergerak kurang lincah dan condong lesu, akhirnya saham-saham yang ada kembali menari dan dengan gerakan yang agresif hampir di seluruh saham-saham perusahaan yang ada. Dipimpin oleh PT Tekomunikasi Indonesia dan PT Unilever, kebergairahan saham yang ada mengindikasikan bahwa permintaan barang dan jasa meningkat, dan pasar terlihat optimis akan peningkatan daya beli konsumen

  1. Stocks Rise to Second Straight Record; Inco Leads Gainers

Kegairahan pasar dan agresivitas saham nampaknya terus berlanjut. Setelah artikel sebelumnya memaparkan bahwa PT Telkom dan Unilever yang bergerak di bidang produk dan jasa memimpin perolehan gains. Artikel ini mengungkapkan bahwa pada waktu tersebut, yang memimpin pergerakan saham adalah saham-saham di perusahaan pertambangan seperti PT Inco, Aneka Tambang, dan PT Timah.

  1. Stocks Fall After Big Gains on Three Consecutive Days

Memang benar bila dikatakan pergerakan saham sungguh aneh dan menarik. Setelah berturut-turut selama beberapa hari yang lalu saham-saham mengalami untung besar, pada hari ini harga-harga saham di beberapa perusahaan maupun IHSG kembali mengalami penurunan. Saham yang paling disorot adalah saham PT Bank Mandiri dan PT Semen Gresik. Turunya saham PT Bank Mandiri lebih disebabkan oleh aksi profit taking, sehingga saham yang ada terlalu active bergerak dan lebih dari 120 juta saham senilai Rp 385,2 M berpindah tangan secara cepat. Sedangkan turunnya saham PT Semen Gresik lebih dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia yang membawa impikasi terhadap naiknya biaya produksi. Namun, penurunan harga saham tidak terjadi pada saham-saham pertambangan seperti PT Inco dan PT Tambang Batu Bara. Hal yang terjadi pada saham perusahaan pertambangan tersebut disebabkan adanya prediksi peningkatan pembelian logam dan bahan bakar, terutama dari Cina.

  1. Stocks Climbs; Astra Agro Gains

Tidak bisa selamanya melompat dan naik. Itulah yang dialami oleh saham-saham pada perusahaan tambang, yakni PT Inco dan PT Antam. Saham di dua perusahaan tersebut turun walaupun di beberapa perusahaan yang lain sedang beraksi dan mendaki seperti saham PT Bumi Resources. Di samping itu, harga minyak kelapa (Palm Oil) yang melambung di Malaysia dan permintaan yang meningkat di Cina menyebabkan saham PT Astra Agro Lestari yang 95% labanya berasal dari Palm Oil naik dan aktif menari-nari.

  1. Stocks Index Finally Breaks 2000 Mark

Seolah-olah inilah bagian yang paling attractive dari tarian saham-saham di Pasar Modal. Indeks Harga Saham akhirnya menembus angka 2000 untuk pertamakalinya. Ada beberapa factor yang mendukung hal tersebut. Di antaranya pernyataan pemerintah tentang inflasi yang stabil, tingginya spekulasi akan adanya pemotongan tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia, naiknya harga kedelai yang berpengaruh terhadap harga Palm Oil terutama bagi PT Astra Agro, dan tingginya kepercayaan investor akibat pengaruh positif dari pasar luar negeri seperti dari bursa Down Jones (DJIA) juga mendorong investor menanamkan dananya di Indonesia.

  1. Stocks Come to Light After Three Days in the Dark

Selang beberapa bulan kemudian, setelah pada periode april th 2007 menggambarkan gerak tarian saham perbankan yang kurang atracktive dan lincah, pada periode awal september ini, saham beberapa perbankan seperti saham PT Bank Mandiri dan PT Bank Central Asia terlihat kembali agresif dan bersinar. Factor utama yang menjadi kunci performance saham-saham tersebut adalah adanya prediksi dari Bank Indonesia akan naiknya permintaan pembiayaan kredit perbankan dan besarnya pinjaman yang diterima perbankan khususnya BCA dari lembaga keuangan internasional asing seperti IFC dan Japan Bank. Kenaikan permintaan pinjaman pada perbankan dipengaruhi oleh turunya suku bunga BI dan tingginya harga komoditas seperti palm oil dan vegetable oil. Di sisi lain, kenaikan harga saham tidak diikuti oleh saham perusahaan produsen kayu dan tripleks yakni PT Barito Pacific Timber yang berencana memperluas bisnisnya kesektor perkebunan, pertambangan, dan property. Egitu pula dengan PT Indofood (ISM), naiknya hatga minyak sayur yang digunakan dalam produksinya menyebabkan harga sahamnya sedikit terkoreksi.

  1. Most Asian Market Down, Tokyo Stocks Lose 2 Percent

Tarian-tarian saham pada artikel-artikel sebelumnya adalah yang terjadi di dalam negeri. Pada artikel ini, dapat diketahui pula keberadaan pergerakan saham di pasar asia. Walaupun pada periode ini, saham-saham di Cina dan Indonesia naik, sebagian besar saham di Negara-negara asia lainya seperti di Tokyo Jepang, Hongkong, Bangkok Thailand, dan manila Filipina sedang tidak dalam kondisi prima, bahkan ada yang meluncur drastic sebagaimana terjadi di Filipina. Factor-faktor yang menyebabkan penurunan pun lebih beragam. Di antaranya aksi traders yang menunggu tindak lanjut dari FOMC (Bank Central America) atas penetapan tingkat suku bunganya. Selain itu, aksi pelanggan yang menarik dananya dari Northern Rock juga turut mewarnai penurunan saham di Asia. Khusus di Manila, Filipina, anjloknya harga saham lebih disebabkan oleh skandal politik yang terjadi.

  1. Asian Stocks Rally After U.S Rate Cut

Setelah sehari sebelumnya beberapa saham di Asia turun yang salah satunya disebabkan banyaknya traders yang menunggu keputusan dari The FED. Prediksi yang ada akhirnya terjadi dan hari ini, dengan dipangkasnya tingkat suku bunga di US dengan jumlah yang lebih besar dari yang diprediksi yakni 50 basis poin, menjadikan saham-saham di Asia melaju kencang, baik di Asia Tenggara, Asia Timur, maupun di India. Kecuali di Shanghai Cina yang bertransaksi atas kebijakan pribadinya dan tidak terpengaruh kebijakan The Fed sahamnya turun 0,55 percent. Namun, di balik kencangnya laju kenaikan tersebut, ada perhatian yang harus difikirkan saat terjadi tren positif yang ada yakni terjadinya inflasi yang diakibatkan pemangkasan suku bunga yang terlalu tinggi.

  1. Rupiah Rises to Highest in Six Weeks as Stocks Gain

Di sisi lain, pada hari yang sama di mana saham-saham di Asia mengalami kenaikan, ternyata kenaikan saham-saham yang ada juga berpengaruh terhadap nilai Rupiah di Indonesia. Kenaikan rupiah pada posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir menunjukkan investor kembali berselera menghadapi risiko dan kenaikan rupiah tersebut masih dalam batas yang dapat diterima eksportir. Sehingga investor cenderung akan membeli rupiah.


Categories